|
|||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||
|
Thursday, August 18, 2005
BANDINGKAN TEKS PROKLAMASI NEGARA ANDA ! INDONESIA P R O K L A M A S INII BismillahirrahmanirrahimACHEH BISMILLAHIRRAHMANIRRAHIMRMS OnafhankelijkheidsverklaringPAPUA PROKLAMASIUGM Proklamasi Majalah UGM Tahun 1972 Tuesday, June 07, 2005
MUKA PEJABAT PANTAS DIGAMPAR !!! Saya dapat berita ini dari email berantai :
From: suparmo@toshiba-tjp.co.id
Assalamu 'alaikum Wr Wb. Sedih rasanya hati ini, disatu sisi para pejabat berebut harta disisi lain rakyat miskin harus menderita. Tolong bagi yg mempunyai email para pejabat kita, di forwardkan email ini biar mereka tau inilah kondisi actual di masyarakat. Salemba, Warta Kota
Penumpang kereta rel listrik (KRL) jurusan Jakarta - Bogor pun geger Minggu (5/6). Sebab, mereka tahu bahwa seorang pemulung bernama Supriono (38 thn) tengah menggendong mayat anak, Khaerunisa (3thn). Supriono akan memakamkan si kecil di Kampung Kramat, Bogor dengan menggunakan jasa KRL. Tapi di Stasiun Tebet, Supriono dipaksa turun dari kereta, lantas dibawa ke kantor polisi karena dicurigai si anak adalah korban kejahatan. Tapi di kantor polisi,Supriono mengatakan si anak tewas karena penyakit muntaber. Polisi belum langsung percaya dan memaksa Supriono membawa jenazah itu ke RSCM untuk diautopsi. Di RSCM, Supriono menjelaskan bahwa Khaerunisa sudah empat hari terserang muntaber. Dia sudah membawa Khaerunisa untuk berobat ke Puskesmas Kecamatan Setiabudi. "Saya hanya sekali bawa Khaerunisa ke puskesmas, saya tidak punya uang untuk membawanya lagi ke puskesmas, meski biaya hanya Rp 4.000,- saya hanya pemulung kardus, gelas dan botol plastik yang penghasilannya hanya Rp 10.000,- per hari". Ujar bapak 2 anak yang mengaku tinggal di kolong perlintasan rel KA di Cikini itu. Supriono hanya bisa berharap Khaerunisa sembuh dengan sendirinya. Selama sakit Khaerunisa terkadang masih mengikuti ayah dan kakaknya, Muriski Saleh (6 thn), untuk memulung kardus di Manggarai hingga Salemba, meski hanya terbaring digerobak ayahnya. Karena tidak kuasa melawan penyakitnya, akhirnya Khaerunisa menghembuskan nafas terakhirnya pada Minggu (5/6) pukul 07.00. Khaerunisa meninggal di depan sang ayah, dengan terbaring di dalam gerobak yang kotor itu, di sela-sela kardus yang bau. Tak ada siapa-siapa, kecuali sang bapak dan kakaknya. Supriono dan Muriski termangu. Uang di saku tinggal Rp 6.000,- tak mungkin cukup beli kain kafan untuk membungkus mayat si kecil dengan layak, apalagi sampai harus menyewa ambulans. Khaerunisa masih terbaring di gerobak. Supriono mengajak Muriski berjalan menyorong gerobak berisikan mayat itu dari Manggarai hingga ke Stasiun Tebet, Supriono berniat menguburkan anaknya di kampong pemulung di Kramat, Bogor. Ia berharap di sana mendapatkan bantuan dari sesama pemulung. Pukul 10.00 yang mulai terik, gerobak mayat itu tiba di Stasiun Tebet. Yang tersisa hanyalah sarung kucel yang kemudian dipakai membungkus jenazah si kecil. Kepala mayat anak yang dicinta itu dibiarkan terbuka, biar orang tak tahu kalau Khaerunisa sudah menghadap Sang Khalik. Dengan menggandeng si sulung yang berusia 6 thn, Supriono menggendong Khaerunisa menuju stasiun. Ketika KRL jurusan Bogor datang, tiba-tiba seorang pedagang menghampiri Supriono dan menanyakan anaknya. Lalu dijelaskan oleh Supriono bahwa anaknya telah meninggal dan akan dibawa ke Bogor spontan penumpang KRL yang mendengar penjelasan Supriono langsung berkerumun dan Supriono langsung dibawa ke kantor polisi Tebet. Polisi menyuruh agar Supriono membawa anaknya ke RSCM dengan menumpang ambulans hitam. Supriono ngotot meminta agar mayat anaknya bisa segera dimakamkan. Tapi dia hanya bisa tersandar di tembok ketika menantikan surat permintaan pulang dari RSCM. Sambil memandangi mayat Khaerunisa yang terbujur kaku. Hingga saat itu Muriski sang kakak yang belum mengerti kalau adiknya telah meninggal masih terus bermain sambil sesekali memegang tubuh adiknya. Pukul 16.00, akhirnya petugas RSCM mengeluarkan surat tersebut, lagi-lagi Karena tidak punya uang untuk menyewa ambulans, Supriono harus berjalan kaki menggendong mayat Khaerunisa dengan kain sarung sambil menggandeng tangan Muriski. Beberapa warga yang iba memberikan uang sekadarnya untuk ongkos perjalanan ke Bogor. Para pedagang di RSCM juga memberikan air minum kemasan untuk bekal Supriono dan Muriski di perjalanan. Psikolog Sartono Mukadis menangis mendengar cerita ini dan mengaku benar-benar terpukul dengan peristiwa yang sangat tragis tersebut karena masyarakat dan aparat pemerintah saat ini sudah tidak lagi perduli terhadap sesama. "Peristiwa itu adalah dosa masyarakat yang seharusnya kita bertanggung jawab untuk mengurus jenazah Khaerunisa. Jangan bilang keluarga Supriono tidak memiliki KTP atau KK atau bahkan tempat tinggal dan alamat tetap. Ini merupakan tamparan untuk bangsa Indonesia", ujarnya. Koordinator Urban Poor Consortium, Wardah Hafidz, mengatakan peristiwa itu seharusnya tidak terjadi jika pemerintah memberikan pelayanan kesehatan bagi orang yang tidak mampu. Yang terjadi selama ini, pemerintah hanya memerangi kemiskinan, tidak mengurusi orang miskin kata Wardah. Wassalam *** mohon maaf karena telah mengutip ulang berita ini*** Saturday, June 04, 2005
MARTUNIS Thursday, June 02, 2005
BERSABARLAH WAHAI SAUDARA²KU ATJEH Kalau pihak RI-Djakarta konsisten dengan ucapannya, Insya Allah Rakyat Atjeh akan mendapat kelegaannya. Tetapi bila mencla-mencle, maka langkahmu masih panjang, berdo'alah, ikhtiyar, dan tetap sabar dalam berusaha karena pertolongan Allah sangatlah dekat.
Reff : Perundingan GAM-RI Thursday, April 28, 2005
MOBIL RODA 2 Tuesday, March 01, 2005
LAKI² SELALU "JUJUR" ... Seorang penjual minyak goreng keliling seperti biasa menjajakan dagangannya di tepian sungai Citarum. "Nyak nyak minyaaaaaaaaaaaaak", teriaknya. Di jalanan menurun tiba-tiba gerobaknya yang penuh dengan botol minyak tergelincir ke Sungai Citarum. Plung ... lap ... tenggelam deh ceritanya ... Huuuuu ... huuuu .... menangislah dia .... "Harus kuberi makan apa istriku nanti ... huuu..." Tiba-tiba ... seorang Malaikat yang baik hati muncul dan bertanya : "Hai, BAJURI ... kenapa gerangankah sehingga engkau menangis begitu ?" "Oh, Malaikat ... gerobak minyak goreng saya tergelincir ke sungai ..." "Baiklah ... aku akan ambilkan untukmu ..." Tiba-tiba Malaikat itu menghilang dan muncul lagi dengan sebuah kereta kencana dari emas, penuh dengan botol dari intan ... "Inikah punyamu?" tanya Malaikat ... "Bukan ... gerobakku tidak sebagus itu" . Malaikat itu pun menghilang lagi dan muncul dengan sebuah kereta perak dengan botol dari perunggu. "Inikah punyamu?" tanyanya lagi. "Bukan, hai Malaikat yang baik ... Punyaku cuma dari besi biasa ...botolnya juga botol biasa..." Lalu Malaikat itu pergi lagi ... dan kali ini kembali dengan gerobak dan botol Si BAJURI. "Inikah punyamu?" "Alhamdulillah ... benar ya Malaikat. Terima kasih sekali engkau telah mengambilkannya untukku". Malaikat berkata", Engkau jujur sekali, ya BAJURI. Untuk itu sebagai hadiah ... aku berikan semua kereta dan botol tadi untukmu..." "???????? Alhamdulillah .... terima kasih ya Allah ... terima kasih ya Malaikat ..." Sebulan kemudian, BAJURI rafting bersama istrinya di sungai yang sama ... Naas tak dapat ditolak, malang tak bisa dihindari ... Perahu karetnya terbalik dan istrinya hanyut ... "Huuuuuuuuuuuuuuuuuu.... huuuuuuuuuuu ....... istriku ... di mana engkau ....", isaknya ... Tiba-tiba Malaikat pun muncul lagi ... "Kenapa lagi engkau, ya BAJURI ?" "Istri saya hanyut dan tenggelam di sungai, hai Malaikat ..." "Ohhh ... tenang ... aku ambilkan ..." Plash ... Malaikat itu menghilang dan tiba-tiba muncul kembali sambil membawa Nafa Urbach ... yang ada tato mawar di perutnya ... "Inikah istrimu?" tanya Malaikat ... "Betul, Malaikat ... dialah istriku ..." "Haaaaaa .... BAJURI!!!" Malaikat membentak marah. "Sejak kapan kamu berani bohong? Di manakah kejujuran kamu sekarang?" Sambil bergetar dan berjongkok ... BAJURI berkata : "Ya, Malaikat ... kalau aku jujur ... nanti engkau menghilang lagi dan membawa Bella Saphira ... kalau kubilang lagi bukan ... maka engkau akan menghilang lagi dan membawa lagi istriku yang sebenarnya ... Lalu ... engkau akan bilang bahwa aku jujur sekali ... dan engkau akan memberikan ketiga-tiganya kepadaku... Buat membiayai hidup Nafa saja aku bingung gimana caranya ... apalagi tiga-tiganya??? " Malaikat pun termangu dan bengong .... "Benar juga kamu ... realistis ..." Tuesday, February 08, 2005
Dapatkan NewsUpdate dari Detikcom Buat temen-temen yang pingin dapet berita dari detik.com via email silahkan klik gambar di atas. Kemudian masukkan email kamu di kotak yang disediakan dan klik kirim. Kamu akan dapet kode aktivasi yang akan dikirim lewat email tersebut. Ok, semoga bermanfaat yaa ....:) Wednesday, February 02, 2005
SMS GRATISAN DARI theSMSzone Caranya 1. Klik gambar di bawah ini : ![]() 2. Setelah terbuka halaman http://thesmszone.com/, klik link Register Now. 3. Isilah data-² yang diminta terutama yang ada tanda (*) wajib diisi. 4. Bagi ANDA yang tinggal di INDONESIA, pengisian data Mobile Phone awali dengan angka 62.... misalnya nomer Anda 08123456789, maka penulisan menjadi 628123456789. 5. Beri tanda centang pada kotak I have read ... dan I am at least 13 years of age. 6. Masukkan kombinasi huruf dan angka yang ada pada kotak di bawahnya, kemudian klik submit. 7. Maka theSMSzone.com akan mengirim kode aktivasi ke HP anda, tunggu beberapa saat. 8. Setelah anda terima kode aktivasi, buka kembali http://www.thesmszone.com/ login dengan username dan password Anda, kemudian klik Active your account here. 9. Untuk mencoba sms gratisan anda, klik menu Send SMS. Ok, semoga berguna dan bila bingung silahkan tanya :) Wednesday, January 05, 2005
Acheh Tampil di Piala Dunia, why not ? Jalan Inggris Buat Indonesia? (Catatan untuk Rizal Mallarangeng) Masalah Aceh memang makin rumit seperti diungkapkan Rizal Mallarangeng dalam kolomnya pada Tempo 8 Oktober yang berjudul "Jalan Skotlandia Buat Aceh". Digambarkan bahwa Aceh saat ini seperti sedang mengambil "jalan Irlandia" yang berdarah-darah dan tak berujung dalam usaha melepasakan dirinya dari Indonesia, seperti bangsa Irlandia berusaha lepas dari Inggris. Aceh, menurut Rizal, seharusnya mengambil "jalan Skotlandia", merujuk kepada cara orang Scot menerima kekuasaan Inggris tapi memperoleh "kemerdekaan" dalam arti lain.Kerumitan masalah Aceh tidak sepenuhnya terpulang pada orang Aceh seperti kecenderungan analisa Rizal. Orang Aceh jelas bukan satu-satunya yang bisa disalahkan dalam kaitan konflik yang tak berkesudahan di tanah rencong. Sejak awal wujudnya Indonesia, pemicu masalah Aceh tak sedikit justru karena relasi sumbang antar elit Aceh dan Jakarta. Rakyat banyak di Aceh dan di Indonesia pada umumnya hanya menjadi objek dan tak pernah ada people to peole dialog; sehingga mereka terus-menerus menjadi korban kebijakan para elitnya.Analisa siapapun tentang Aceh, khususnya dari anak kepulauan tercinta, pantas dihargai sebagai wujud perhatian dan kepedulian. Dengan tidak mengurangi penghargaan terhadap Rizal yang mulai belajar tentang Aceh, beberapa pernyataannya layak mendapat pemikiran lebih mendalam. Meskipun tawaran agar Aceh mengambil "jalan Skotlandia" bukanlah tawaran baru, segala kemungkinan untuk perdamaian di Aceh patut dipertimbangkan. Sayang sekali tawaran itu disampaikan sambil mengindikasikan tuduhan sepihak mengenai teror. Sebuah tuduhan yang jika dipakai, bukan hanya akan mengalienasi GAM, tapi juga seluruh rakyat Aceh seperti yang terjadi dengan stigma "GPK" atau "ganja". Kalau stigma ganja mungkin masih bisa diterima sebagi lelucon, siapa yang mau diolok-olok sebagai teroris pada zaman seperti ini. Akan lebih baik kiranya jika kita membuka wacana baru di luar tuduhan semacam itu yang sudah terbukti tidak efektif. Usaha terorisasi masalah Aceh tak lebih dari upaya menerabas sebagian pengambil kebijakan di Jakarta yang malas berpikir. Dengan penerorisan masalah Aceh, ada yang berpikir bisa "sekali kayuh dua pulau terlampaui", yakni, memadamkan masalah Aceh sekaligus menunjukkan seriusnya Jakarta mengusung agenda war on terrorism. Lebih parah lagi kalau agenda ini diusung sekadar untuk menyenangkan negara donor dan bukan untuk mendudukkan soal terorisme dengan benar.Kalaupun benar Aceh sedang menempuh "jalan Irlandia", yang menurut Rizal lebih banyak mudharat-nya, tetap saja ada kemungkinan Aceh diyakinkan untuk beralih ke "jalan Skotlandia". Tapi itu mungkin terjadi hanya dan hanya jika Indonesia mengambil "jalan Inggris". Akan tetapi, siapkah, atau lebih jauh lagi, maukan Indonesia mengambil jalan itu?Meskipun berada dalam United Kingdom of Great Britain and Northern Ireland, begitu nama lengkap negara yang kita sebut Inggris itu, bangsa Skot, misalnya, masih punya kebebasan membedakan diri mereka dari bangsa Inggris lewat budaya, dialek dan bahasa Gaelic-nya. Demikian juga dengan bangsa Wales dan kaum Ulster di Irlandia Utara. Apalagi bangsa Irlandia yang sudah merdeka sejak tahun 1921, setelah berjuang tujuh abad lebih.Secara politik Inggris bersedia memberikan ruang gerak sampai batas yang tak pernah terbanyangkan akan diberikan oleh Indonesia untuk Aceh. Dalam sistem politik UK, dikenal adanya Parlemen Skotlandia, Majelis Nasional Wales dan Majelis Irlandia Utara (yang terakhir telah dibekukan karena proses damai). Lembaga perwakilan ini jauh lebih akomodatif dari model DPRD yang kita miliki. Selain Partai Konservatif dan Partai Buruh pimpinan Tony Blair, UK sebenarnya mempunyai sejumlah partai yang menjadi wadah aspirasi primordial seperti Party of Wales pimpinan Plaid Cymru, Scottish National Party, dan tak kurang dari tiga partai dengan basis Irlandia Utara seperti Sinn Fein pimpinan Gary Adams. Inggris bersedia melepas Irlandia (26 county di selatan) dan kini terikat perjanjian damai dengan kaum Ulster Irlandia Utara (6 county). Kesepakatan damai tahun 1998 yang dikenal sebagai Good Friday Agreement sudah dan sedang terus diimplementasikan walaupun dengan sejumlah kesulitan. Keteguhan perjuangan kaum Ulster dan kebesaran jiwa Inggris akhirnya membawa kedua bangsa pada sebuah harapan baru, tak peduli bagaimanapun sulitnya merealisasikan harapan itu.Inggris bahkan lebih maju dari Spanyol dalam urusan Gibraltar, koloni yang telah dikuasainya 300 tahun lebih. Inggris justru mendapat tentangan dari Spanyol untuk memberi otonomi yang lebih luas setelah penduduk Gibraltar secara mutlak menolak "total shared sovereignty" lewat referendum tahun 2003 lalu. Indonesia, seperti kita ketahui, menganggap semua wacana sudah final. Atas nama NKRI, tak boleh ada ekpresi politik alternatif. Sistem federal sekalipun, yang dianggap lebih cocok untuk kepulauan multikultur oleh founding fathers sekaliber Hatta sampai ke tokoh bijaksana dan piawai seperti almarhum Romo Y.B. Mangunwijaya dan Amien Rais, tak boleh disebut lagi. Konon, Hasan Di Tiro, tokoh puncak GAM, pernah mengirim surat kepada PM Ali Sastroamidjojo kala itu mengingatkan keniscayaan bentuk federal untuk Indonesia. Adalah ironi, hampir semua yang jadi pemberontak di Indonesia pada awalnya adalah republiken sejati, termasuk Hasan di Tiro.Sebenarnya terdapat sejumlah alternatif pola hubungan Aceh-Indonesia yang bisa dikaji berdasarkan pengalaman bangsa-bangsa lain di dunia. Tapi semuanya akan tersimpan dalam peti sejarah dunia, jika tidak pernah dibuka, apalagi dikaji dan coba disepakati bersama. Kalau belum apa-apa semua wacana dianggap sudah final, manatah mungkin mengajak orang Aceh beralih dari "jalan Irish ke jalan Scottish". Namun yang paling menganggu dalam tulisan Rizal adalah pernyataannya bahwa "Sangatlah tragis kalau sejarah Aceh mengarah ke jalan buntu seperti itu, karena yang paling merugi justru rakyat Aceh sendiri". Tampaknya kita masih terjebak dengan cara pikir yang menganggap orang Aceh sebagai "the other". Jelas konflik berkepanjangan di Aceh tidak hanya merugikan orang Aceh tapi juga seluruh rakyat Indonesia. Secara langsung karena tewasnya ratusan anak-anak bangsa yang dikirim ke medan perang, terkurasnya triliunan rupiah untuk membiaya perang; dan secara tidak langsung telah menghabiskan energi pembangunan demikian besar. Konflik di Aceh (dan lainnya di Indonesia) juga disinyalir telah dipolitisir oleh pihak-pihak yang berkepentingan untuk memenangkan pertarungan politik di Jakarta.Memang sebagian besar dampak langsung konflik dirasakan oleh orang Aceh. Tapi, dimana letak solidaritas ke-Indonesia-an kita jika menganggap penderitaan orang Aceh bukan urusan dan penderitaan kita semua? Dalam kasus Aceh, nasionalisme Indonesia telah dibajak pemerintah dan disatuartikan sebagai mengikuti semua yang dikatakan penguasa. Mempertanyakan kebijakan penguasa terhadap Aceh bisa dianggap a-nasionalis bahkan dituduh makar. Dengan cara seperti ini, bukan saja pemerintah gagal menyelesaikan konflik Aceh, tapi bahkan memperparah konflik karena terbelahnya masyarakat Aceh dari masyarakat Indonesia lainnya. Politik men-orang lain-kan orang Aceh justru makin memperlemah integritas kepulauan nusantara. James Watt, walaupun lebih dikenal sebagai orang Inggris ketimbang orang Skotlandia, tetap lebih beruntung karena paling tidak sudah terkenal sebagai penemu mesin uap dari Inggris. Demikian juga Adam Smith si bapak ilmu ekonomi moderen, Lord Kelvin sang fisikawan, David Hume dan Adam Ferguson dalam khazanah kebudayaan. Tapi nasionalisme Indonesia, alih-alih melahirkan orang terkenal "dari Indonesia", tak usah dari Aceh; yang sudah terkenal dari berbagai penjuru kepulauan malah terbenam dan dibenamkan demi persatuan dan kesatuan. Orang Aceh dan orang kepulauan lainnya jadi kurang nasionalis ketika mulai menyebutnyebut tokoh-tokoh terkemuka dalam sejarahnya. Padahal sejarah kepulauan mengandung demikian banyak orang-orang yang tak kalah birilian dengan orang-orang dari "kepulauan Inggris" yang disebutkan di atas. Jangan salahkan sebagian orang Aceh yang bahkan menganggap Indonesia lebih buruk daripada kolonial Belanda, konon lagi Inggris. Cara-cara tanpa kompromi dalam menangani Aceh telah menyebabkan luka demikian banyak dan dalam pada masyarakat Aceh dan Indonesia. Tapi mungkin masih ada harapan orang Aceh mau memilih "jalan Skotlandia" kalau Indonesia mau mencoba "jalan Inggris". Orang Aceh juga sangat suka sepak bola. Wales, Skotalandia, dan Irlandia Utara secara sendiri-sendiri bisa tampil di pentas Piala Dunia sepakbola sebagai sebuah tim nasional, di luar tim nasional Inggris. Kenapa Aceh tidak? Thursday, December 02, 2004
SBY Dituntut Denda Rp 13 Triliun Protes terhadap perpanjangan darurat sipil di Aceh belum berakhir. Tepat di hari kesepuluh, keluarnya Peraturan Pemerintah No. 2 Tahun 2004 menuai gugatan yang tidak bisa dipandang sebelah mata. Sebanyak tujuh masyarakat Aceh perwakilan dari 15 kabupaten/kota menggugat Presiden Susilo Bambang Yudhoyono secara class action (gugatan kelompok) oleh masyarakat Aceh. Gugatan class action itu diajukan Serikat Pengacara Rakyat (SPR) yang mendapat kuasa dari Thamrin Ananda, Raihana Diani, Rahmat, Mulyadi, Risnati Malinda, Ma’arif, dan Syafruddin. Usai konferensi pers di Jalan Suryo, Jakarta Selatan, Thamrin yang mengaku mewakili Pidie mengatakan, melalui Serikat Pengacara Rakyat mereka mendesak majelis hakim agar menghukum Presiden SBY untuk membayar denda sebesar Rp 13 triliun. Dana sebesar itu, katanya, diperuntukkan untuk rehabilitasi masyarakat Aceh atas kebijakan operasi militer di Aceh. Penyalurannya melalui Komisi Ganti Rugi. “Darurat sipil hanya buang-buang uang saja, per enam bulan dianggarkan Rp 4 triliun dan teridentifikasi dikorupsi Rp 2,7 triliun,” kata Thamrin kepada acehkita, Minggu (28/11). Secara terpisah, Jurubicara SPR Habiburokhman menyatakan, pada Rabu (31/11) nanti, pihaknya akan mengajukan gugatan class action ke Pengadilan Negeri Jakarta Pusat. “Secara hukum besar sekali kemungkinan menang, posisi kita secara hukum cukup kuat,” tegas Habiburokhman. Menurut SPR, gugatan class action terhadap Presiden SBY merupakan tindak hukum atas pengingkaran janjinya saat berkampanye dalam pemilihan presiden di Aceh. Lewat naskah penjelasan mengenai gugatan class action, SPR menyebutkan, Presiden SBY telah melanggar pasal 1338 KUHPerdata yang berbunyi, ”Semua perjanjian yang dibuat secara sah berlaku sebagai undang-undang bagi mereka yang membuatnya.” “Perbuatan melawan hukum yang dilakukan SBY tersebut sudah dan akan terus menimbulkan kerugian bagi rakyat Aceh,” tegas Habiburokhman. Dari Aceh Timur dilaporkan, Koordinator Pos Bantuan Hukum dan Hak-hak Asasi Manusia (PB HAM) Aceh Timur Mohd Jusuf Puteh akan mengirim surat kepada Presiden Susilo Bambang Yudhoyono dan meminta pemerintah agar menyelesaikan kasus Aceh melalui dialog dan perundingan. “Penculikan dalam beberapa bulan ini terus terjadi. Penyelesaian konflik Aceh harus ditempuh dengan perundingan,” kata Jusuf Puteh kepada wartawan di Langsa. Namun, kata Jusuf Puteh, perundingan itu tidak sepenuhnya harus mengikutsertakan pihak asing, kecuali dalam hal-hal tertentu. Menurutnya, penyelesaian konflik Aceh dengan menggunakan senjata hanya akan menambah korban sipil dan melahirkan dendam baru. Di sisi lain, Jusuf Puteh berharap Presiden Yudhoyono dapat memberikan kepastian hukum melalui penuntasan berbagai kasus korupsi yang diduga melibatkan gubernur, bupati, walikota dan pejabat daerah lainnya. “Kalau memang benar mereka bersalah, segera ajukan ke pengadilan. Tapi kalau tidak (bersalah) dapat segera diumumkan kepada publik,” katanya, sembari mendesak Presiden Yudhoyono untuk mendorong Kejaksaan Agung, KPK dan polisi agar segera menuntaskan kasus korupsi yang melibatkan Gubernur Abdullah Puteh. Sehari sebelumnya, Nasruddin, salah seorang pengurus Solidaritas Persaudaraan Korban Pelanggaran HAM Aceh (SPKP HAM Aceh), sejak Sabtu (27/11) sekitar pukul 08.00 WIB, diperiksa dan ditahan aparat keamanan di Makoramil Montasik, Aceh Besar. Menurut Harsuni, istri Nasruddin, aparat memeriksa suaminya atas tuduhan keterlibatan dalam kelompok gerilyawan Gerakan Aceh Merdeka (GAM), sebagai pengutip pajak nanggroe. Harsuni mengaku, dirinya dan beberapa anggota keluarga mengantar Nasruddin ke Makoramil. “Bapak tidak diapa-apakan jika Bapak menyerah, sekecil-kecilnya kesalahanpun,” kata Harsuni menirukan perkataan aparat. Tiga hari sebelumnya, kata Harsuni, rumah mereka digrebek aparat keamanan. Dalam penggrebekan itu, aparat mengambil satu unit sepeda motor jenis vespa milik Nasruddin. Sementara, Harsuni dan Nasruddin sedang mengantarkan anaknya di terminal. Harsuni dan Nasruddin mengetahui rumahnya digrebek aparat, dari tetangga yang mengabarinya melalui telepon. Selang beberapa waktu setelah keberangkatan anaknya, Nasruddin pergi ke Medan. TNI Serang Pos Brimob, Satu Tewas, Tiga Lainnya Luka Tawuran ala aparat keamanan kembali terjadi. Setelah di Jalan Tanah Tinggi Kota Binjai, Sumatera Utara, Oktober 2002 silam antara Batalyon A Brimob Polda dan aparat Polres Langkat melawan Linud-100/PS. Media melaporkan tawuran sengit ketika itu menewaskan 10 orang termasuk ekses pasca bentrok. Korban di antaranya empat Brimob, tiga Polisi Umum, dua warga sipil, satu anggota TNI-AD dari kesatuan Arhanud dan 23 korban luka-luka. Sejak 1999 hingga 2002, terjadi sekurangnya 15 kali bentrokan antara para prajurit TNI dan Polri antara lain di Ambon, Sampit, Jambi, Aceh Barat, Madiun, Bogor dan terakhir di Binjai. Dan peristiwa itu, kembali terjadi di Aceh. Satu prajurit Brimob Sat II Pelopor Datasemen A Bogor Bharaka Jonsen tewas setelah pos mereka di Desa Seuneubok Bace, Idi Rayeuek diserang sejumlah pasukan TNI dari Yon 111/Karma Bhakti Kompi B Peudawa, Aceh Timur, Kamis (25/11). Tidak ada korban jiwa dari pihak TNI. Clash senjata yang terjadi sekitar pukul 15.30 hingga 16.30 WIB itu juga melukai tiga anggota Brimob lainnya, yaitu Bharaka Alida terkena peluru di kepala bagian kiri. Saat ini, kondisinya mulai stabil. Bharaka Dikdik Santosa, terkena di bagian paha kanan yang menyebabkan tulang paha remuk. Kondisinya masih kritis. Sedangkan Bharaka Faisal terkena di perut atau tepatnya di lambung bagian kiri. Saat ini, Faisal masih dirawat di bagian ICU RSU Langsa. Belum diketahui secara pasti penyebab penyerangan prajurit TNI Yon 111/Karma Bhakti Kompi B itu ke pos Brimob Sat II Pelopor Datasemen A Bogor yang juga bermarkas di Desa Seuneubok Bace, Idi Rayeuek, Aceh Timur itu. Menurut keterangan yang dihimpun acehkita di lokasi kejadian, pasukan Brimob diserang beberapa anggota TNI yang mengendarai satu mobil dan enam sepeda motor, dari belakang, samping kiri dan samping kanan pos. Beberapa pasukan TNI masuk ke pos dan meminta pasukan Brimob berkumpul di dalam markas. “Salah seorang pasukan TNI menanyakan, siapa yang menyetop dia kemarin,” kata seorang anggota Brimob kepada sejumlah wartawan. Setelah itu, kata sumber acehkita dari kalangan anggota Brimob, pasukan TNI yang masih berada di luar menyerang pos dari arah belakang, samping kanan dan samping kiri pos. Saat itulah, Bharaka Jonsen tewas setelah diterjang peluru di bagian kepalanya. Saat ini, jenasah Bharaka Jonsen telah dievakuasi ke Mapolres Aceh Timur. Jenasah Bharaka Jonsen yang tewas dalam kontak Menurut keterangan yang dihimpun acehkita dari berbagai sumber, sejauh ini penyebab 25 personel TNI dari Yonif 111 Karma Bhakti Kompi Senapan B Peudawa Rayeuk Aceh Timur yang melakukan penyerangan pos Brimob Sat II Pelopor Datasemen A Bogor, ditahan di Denpom I Iskandar Muda Lhokseumawe, Jum’at (26/11). Komandan Korem 011 Lilawangsa Kolonel Inf AY Nasution mengatakan, mereka yang ditahan di markas Polisi Militer Lhokseumawe, telah terbukti melanggar disiplin, karena menyerang pos Brimob di Desa Seunuebok Bace, Idi Rayeuek, Aceh Timur, Kamis (25/11) silam. Mereka akan diperiksa atas keterlibatan dalam penyerangan itu. “Semua masuk sel dulu dalam tahanan militer di Lhokseumawe. Dari datang (menyerang) saja sudah melanggar disiplin,” kata Danrem AY Nasution kepada wartawan di Langsa, Jum’at (26/11). Danrem juga menegaskan, tidak akan menolerir pelaku terjadinya insiden tersebut. Kata Danrem, jika dari hasil pemeriksaan nanti terbukti melanggar disiplin berat, pihaknya tidak segan-segan untuk melakukan tindakan skorsing. Bahkan, katanya, bisa saja pihaknya akan mengajukan usulan pemecatan bagi prajurit itu. Namun, hal itu akan dilakukan setelah pemeriksaan secara kontinu dan berulang-ulang. “Untuk mengungkap insiden sebenarnya dari 25 prajurit tersebut, membutuhkan waktu dan pertanyaan juga harus dilakukan secara berulang-ulang, “ katanya. Ketika ditanya penyebab bentrokan TNI dengan Polri di Aceh Timur tersebut, Danrem AY Nasution mengatakan, peristiwa itu terjadi akibat kesalahpahaman saja. “Jadi lawan TNI dan Polri itu, GAM, bukan TNI melawan Polri,” katanya. Panglima TNI Jendral Endriartono Sutarto dan Kapolri Jendral Da’i Bachtiar mengatakan, TNI dan Polri membentuk tim bersama untuk mengusut kasus bentrokan itu, guna memperoleh hasil yang sebenarnya tentang penyebab bentrokan itu. “Kita beri kesempatan dulu kepada tim ini untuk bekerja,” kata Da’i di sela-sela kunjungan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono ke Banda Aceh, Jum’at (26/11). Pihak TNI dan Polri memutuskan membentuk tim bersama untuk mengusut kasus bentrokan antara pasukan TNI Yon 111 Peudawa dengan pasukan Brimob Sat II Pelopor Datasemen A Bogor di Desa Seuneubok Bace, Idi Rayeuek, Aceh Timur, Kamis (25/11) kemarin. Kapolri Jendral Pol Da’i Bachtiar mengatakan, keputusan membentuk tim bersama untuk memperoleh hasil yang sebenarnya tentang penyebab bentrokan itu. “Kita beri kesempatan dulu kepada tim ini untuk bekerja,” kata Da’i di sela-sela kunjungan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono ke Banda Aceh, Jum’at (26/11). Da’i mengaku belum mendapat laporan tentang awal mula kejadian itu terjadi. Ia mengaku baru mendapat laporan saat berada di Banda Aceh, pagi tadi. Dia meminta para prajurit yang bertugas di lapangan untuk dapat menahan diri dan tidak memperluas konflik tersebut. Sementara Panglima TNI Jendral Endriartono Sutarto mengatakan, Sutarto juga mengatakan, tim yang diturunkan bukan dari Mabes TNI atau Mabes Polri, melainkan dari Kodam Iskandar Muda dan Polda Aceh. “Saya pikir kasus ini cukup ditangani di tingkat Kodam dan Polda saja,” lanjutnya. Peristiwa ini terjadi, duga Sutarto, karena prajurit sudah terlalu jenuh bertugas di daerah konflik. “Ke depan kita minta kesalahpahaman seperti ini tidak terjadi lagi,” ujarnya tanpa menjelaskan kesalahpahaman dalam bidang apa sehingga menyebabkan bentrokan senjata antara TNI dan Brimob itu. Jurubicara Polda Aceh Kombes Pol Sayed Hoesainy mengatakan, kejadian itu bermula ketika satu peleton prajurit TNI dari Yonif TNI Yon 111/Karma Bakti Kompi B yang bertugas di Peudawa, mendatangi pos Brimob Sat II Pelopor Datasemen A Bogor pada Kamis (25/11) siang. Setelah sempat berdialog, tiba-tiba salah seorang pasukan TNI melepaskan tembakan ke arah Brimob. Akibatnya, Bharaka Jonsen tewas setelah peluru menembus kepalanya. Selain itu, tiga prajurit Brimob lainnya mengalami luka tembak. Saat ini, ketiga personel Brimob yang luka, masih dirawat intensif di Rumah Sakit Umum Langsa. “Bagaimana kejadian ini terjadi, sedang diusut tim gabungan TNI dan Polri,” kata Sayed Hoesainy kepada wartawan di Banda Aceh. Tokoh GAM Tinggal 90 Orang, SBY Ulangi Janji Amnesti Presiden Susilo Bambang Yudhoyono berjanji akan memberikan amnesti bagi anggota Gerakan Aceh Merdeka (GAM) yang kembali ke pangkuan Negara Kesatuan Republik Yudhoyono juga mengatakan, jika GAM telah turun gunung dan menemukan solusi penyelesaian konflik Aceh yang bermartabat, pemerintah akan segera melakukan pembangunan di daerah yang berjulukan Serambi Mekkah itu. “Bila konflik, pembangunan tidak bisa dilanjutkan dan akan terhambat. Semua kita akan rugi,” kata Yudhoyono di hadapan sejumlah tokoh masyarakat, mahasiswa, pemuda di Anjong Mon Mata yang berada dalam kompleks kediaman gubernur Aceh. Kedatangan Yudhoyono ke Aceh kali ini merupakan kunjungan pertama ke Aceh setelah menjadi presiden. Menurut Yudhoyono, kedatangannya untuk membawa tekad, komitmen dan semangat yang baru untuk mengakhiri konflik di Aceh. Yudhoyono juga sangat berharap konflik di Aceh bisa segera berakhir dan menyatakan rasa optimisnya bahwa konflik Aceh akan bisa diselesaikan. Turut hadir dalam kunjungan presiden ini, Kapolri Jendral Da’i Bachtiar, Panglima TNI Jendral Endriartono Sutarto, Menteri Hukum dan HAM Hamid Awaluddin, Jaksa Agung Abdurrahman Saleh, Jurubicara Kepresidenan Andi Mallarangeng, dan beberapa menteri Kabinet Indonesia Bersatu lainnya. Tampak juga Gubernur Abdullah Puteh, PDSD Irjen Pol Bachrumsyah Kasman, dan Pangdam Iskandar Muda Mayjen Endang Suwarya. Dalam kunjungan singkat itu, Yudhoyono juga sempat berdialog dengan tokoh masyarakat. Mahyaruddin Yusuf, anggota DPRD Aceh, meminta Presiden Yudhoyono untuk mengeluarkan kebijakan yang membolehkan wanita di Aceh menggunakan jilbab dalam pengurusan surat keterangan catatan kepolisian (SKCK). Selain itu, Mahyaruddin juga menyorot tindak pidana korupsi yang marak terjadi di Aceh. Sementara itu, hingga saat ini menurut data pihak Kodam Iskandar Muda tercatat 90 orang tokoh menengah Gerakan Aceh Merdeka (GAM) masih eksis bergerilya di Aceh. Sebelumnya TNI mengaku telah menumpas lebih dari 50-an tokoh menengah GAM. Salah satunya, Panglima Operasi GAM wilayah Peureulak Teungku Ishak Daud. "Situasi keamanan di Aceh kini memang relatif kondusif dan semakin hari semakin membaik, namun yang patut diingat tercatat sekitar 90-an lagi tokoh menengah dari kelompok GSA yang masih tersisa,” kata Panglima Kodam Iskandar Muda Mayjen TNI Endang Suwarya di Banda Aceh, Selasa (23/11). Hingga saat ini diperkirakan jumlah anggota GAM yang masih tersisa berkisar antara 2.000-2.500 personel dengan kekuatan senjata 800 pucuk. Ketika pemerintah menggelar operasi terpadu dengan tingkat darurat militer selama setahun, tercatat sekitar 2.000-an anggota GAM dilumpuhkan, dan senjata api yang dirampas aparat keamanan sebanyak 650 pucuk berbagai jenis. PDSD mengaku belum akan menarik camat-camat TNI yang masih tersebar di beberapa daerah hitam di Aceh meskipun suasana sudah dianggap sedikit kondusif.
Korupsi dan Perbaikan Ekonomi Kasus penyimpangan anggaran APBD tahun 2002 yang diduga melibatkan sejumlah anggota DPRD Aceh periode 1999-2004, sudah ditingkatkan ke tahap penyidikan. “Kalau kita pelajari data-data yang ada, indikasi tersebut sudah dapat ditingkatkan ke tahap penyidikan,” kata Asisten Intelijen Kejati NAD Gerry Yasid kepada sejumlah wartawan di ruang kerjanya, Kamis (25/11). Pun begitu, kata Gerry, pihak Kejaksaan Tinggi belum bisa menentukan siapa tersangka dalam kasus itu karena masih memerlukan data tambahan untuk mendukung hasil pemeriksaan. “Saya belum dapat tentukan sekarang. Tapi dua minggu dari hasil penyidikan akan kita umumkan,” terangnya. Menurut Gerry, berdasarkan keterangan yang mengemuka di kalangan pers, negara dirugikan sebesar Rp 8 milyar. Namun, pihaknya masih menunggu hasil perhitungan ulang dan hasil audit BPKP untuk mengetahui kepastian total kerugian negara yang diakibatkan karena penyelewengan dana APBD tersebut. Lebih lanjut Gerry mengatakan, pihaknya mempedomani Peraturan Pemerintah No 110 tahun 2000 sebagai dasar dalam menyelidiki penyelewengan anggaran itu. Menurut PP 110 itu, kata Gerry, seharusnya dana untuk kegiatan dewan hanya dibolehkan sebesar satu persen dari pendapatan asli daerah (PAD). “Ternyata dalam pelaksanaan melebihi itu,” kata Gerry yang didamping Asisten Tindak Pidana Khusus Hafrinur. Gerry juga mengungkapkan dana tersebut diambil dari dana anggaran cadangan yang ditempatkan di bank. Anggaran pertama yang sudah dialokasikan untuk anggoa dewan periode 1999-2004, sekitar Rp 5 milyar. Pada tahap kedua, Pemda NAD kembali mengalokasikan dana sebesar Rp 4 milyar. Dugaan keterlibatan Gubernur Abdullah Puteh dalam kasus ini, kata Gerry, juga masih diselidiki, karena Gubernur Puteh mempunyai kewenangan dalam memflot keuangan daerah. Dalam kasus ini, 55 anggota DPRD periode 1999-2004 akan dijadikan tersangka, terkait kasus kredit senilai Rp 75 juta per anggota dewan. Kredit itu diberikan untuk pengadaan mobil pribadi bagi anggota dewan. Dana Pendidikan Selain kasus tersebut, Kejati NAD juga sedang melakukan penyelidikan terhadap penyimpangan dana pendidikan yang diduga melibatkan manajemen proyek pada Dinas Pendidikan NAD. Berdasarkan laporan masyarakat, kata Gerry, ada lima kasus penyimpangan dana pendidikan, yaitu dana pendidikan untuk anak korban konflik sebesar Rp 10 milyar, pengadaan alat pendidikan TK/SD/SDLB senilai Rp 17 milyar dan pengembangan sekolah percontohan dengan anggaran Rp 13,2 milyar. Selain itu, masih ada penyimpangan dana dalam pembangunan gedung sekolah SLTP/MTsN sebesaer Rp 6 milyar, serta anggaran untuk pemantapan evaluasi dan monitoring pelaksanaan pendidikan di Aceh sebesar Rp 1 milyar. “Dana tersebut adalah nilai proyek, bukan kerugian negara,” jelasnya. Sampai sejauh ini, pihak Kejati NAD sedang menyelidiki sejauh mana penyimpangan yang terjadi pada Dinas Pendidikan itu. “Bila ada penyimpangan, berarti sudah ada unsur pelanggaran pasal tindak pidana korupsi,” sebut Gerry. Sementara itu, sedikitnya 262 karyawan PT Arun NGL Lhokseumawe, Aceh Utara, akan di-PHK. Hal itu berkaitan dengan pemenuhan kouta kontrak gas untuk luar negeri sampai 2015. Keputusan itu diambil menyusul menipisnya gas dari ladang gas Lhoksukon Selatan (Seureuke) 15 Km dari ladang gas Arun. Ladang gas Pasee, juga ladang gas NSO lepas pantai laut Jambo Aye, masih di Kabupaten Aceh Utara, dioperasi sebelum tahun 2000. Pada sejumlah wartawan, Media Relation Officer PT Arun, Irwandar mengatakan PHK akan dilakukan Rabu (1/12) mendatang. Menurutnya, seiring dengan menipisnya produksi gas, kapasitas pekerja juga akan dikurangi, itu berpatokan pada produksi gas tahun 2005 hanya 73 cargo dari produksi gas tahun 2004, 103 cargo. “Dalam tiap tren hanya membutuhkan 200 tenaga kerja sementara tahun 2005 hanya berproduksi sekitar 73 cargo dari 103 cargo di tahun 2004. Jadi kalau ini tidak dilakukan perusahaan kelebihan karyawan sekitar 260-an lebih,” jelas Irwandar, Selasa (23/11). Dalam evaluasi perdana perpanjangan Darurat Sipil (Darsip) tahap II di Aceh, pemerintah berencana akan memberi prioritas utama pada operasi pemulihan ekonomi guna membuka peluang penciptaan lapangan kerja di Aceh.
“Dana-dana yang bersumber dari APBD Provinsi dan Kabupaten/Kota lebih diprioritaskan untuk operasi pemulihan ekonomi, sehingga akan mudah terbukanya lapangan kerja lebih banyak di daerah-daerah,” kata PDSD lagi.
Sumber : http://www.acehkita.com/content.php?op=modload&name=reportase&file=view&coid=1798&lang=
|
Profile Tag Board Calendar
Links Ensiklonesia : Links
Say Salam Credits |
||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||