|
|||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||
|
Friday, August 06, 2004
LIFE IS...... LIFE
Life isn't about keeping score.
But life is about who you love and who you hurt. Thursday, August 05, 2004
NASEHAT BUAT ............. NASEHAT BUAT ...............
Sesunguhnya engkau keluar dari sarang yang telah mendewasakan kamu lalu pindah ke sebuah tempat tidur yang belum pernah kau nikmati dan kepada seorang teman hidup yang belum engkau kenal maka: jadilah kau buminya niscaya dia akan menjadi langitmu.
jadilah kau lantainya dia akan menjadi tiangmu
jadilah kau hambanya dia akan menjadi budakmu janganlah kau terlalu dekat dengan suamimu nanti dia akan bosan terhadapmu
jangan pula kau menjauhinya sehaingga ia akan melupakanmu kalau ia mendekatimu maka maka dekatlah kau kepadanya kalau dia menjauh maka jauhilah dia peliharalah selalu hidung suamimu, telinganya dan matanya sekali2 jangan sampai ia membaui dari dirimu selain keharuman jangan ada yang di dengar selain perkataan yang baik dan jangan sampai melihat selain yang indah belaka. Friday, July 23, 2004
Kerbau Pak ALi yang Manis
Kisah ini adalah tentang bersatunya GAM dan TNI untuk memburu pencuri yang meresahkan masyarakat. *** Suatu pagi, di Dusun Langgien, Desa Kumbang, Kecamatan Peusangan, Kabupaten Bireuen, warga dikejutkan dengan hilangnya sebuah kerbau milik Pak Ali, penduduk setempat. Kehilangan itu diketahui Pak Ali pada pagi harinya, ketika ingin memberi makan ternak yang telah dipeliharanya sejak kecil dan digunakan membajak sawah itu. Spontan Pak Ali kaget mendapati kerbau jantan yang ditaksir berharga Rp 4-5 juta itu, raib. Kehilangan itu langsung diceritkan Pak Ali kepada tetangganya. Tentu saja para tetangga menjadi heboh karena pencurian ternak besar, baru kali ini terjadi di desa itu. Namun kalau “hanya” kemalingan ternak kecil semisal ayam dan bebek memang sudah sering terjadi. Berita itu pun bahkan terdengar oleh anggota gerilyawan yang sering melintasi daerah itu. Kebetulan, ada salah seorang anggota GAM yang pernah terdaftar sebagai penduduk di Desa Kumbang. Mendengar berita kemalingan itu, anggota gerilyawan pun gusar. Maklum, mereka yang dipercaya selalu kekurangan logistik, khawatir dijadikan kambing hitam. Anggota GAM pun lalu berusaha mencari tahu siapa sebenarnya yang melakukan aksi pencurian tersebut. Informasi pun dihimpun dari warga desa sejak dari awal mula. Tak tanggung-tanggung, GAM juga menyarankan kepada sebagian warga desa untuk mencari tahu ke tempat penjualan kerbau di Kecamatan Gandapura. Di saat yang sama, pasukan TNI yang sedang berpatroli untuk pengamanan menjelang pemilu presiden 5 Juli lalu, juga mencium berita kemalingan tersebut. Penasaran dan juga tak ingin digosipkan sebagai pelakunya, spontan mereka menyalahkan GAM sebagai pelakunya. “Ini pasti GAM yang punya ulah,” sebut Mae (nama samaran) menirukan ucapan salah seorang tentara kepada warga setempat ketika itu. Warga yang mendengar hanya diam. “Salah-salah kamoe dikira dukung awak GAM, jeut karu (salah-salah kami malah dituduh mendukung GAM, bisa kacau),” sebut Mae kepada acehkita. Tak tinggal diam, TNI juga berusaha menemukan pelaku pencurian tersebut dengan melakukan langkah yang sama dengan GAM, yaitu mencari ke mana biasanya kerbau itu dibawa untuk dijual. *** Pak Ali ditemani salah seorang warga lalu berusaha mencari kerbau tersebut ke salah satu pasar hewan yang ada di Gandapura. Benar saja, Pak Ali dengan mudah menemukan kerbaunya di tempat tersebut. Agen kerbau pun menceritakan kalau kerbau tersebut dibeli dari salah seorang warga pada pagi harinya. Dia pun kemudian menyebut sebuah nama, Syuib (nama samaran) dan ciri-ciri orang tersebut. Tak sulit, karena agen kerbau itu pun mengenal si penjual. Kepada si penjual, Pak Ali lalu menceritakan bahwa kerbau itu adalah miliknya yang dicuri seseorang. Untunglah, agen kerbau itu cukup mengerti dan dia berjanji tidak akan menjual kerbau itu, hingga pencurinya ditemukan. Pulang ke desanya, Pak Ali pun menceritakan informasi yang didapatnya. Warga Desa Kumbang mengenal Syuib sebagai warga tetangga, Desa Kubu Raya. Informasi ini tentu saja diberitahukan oleh warga kepada TNI dan bahkan juga GAM yang masih penasaran dengan kejadian itu. Syuib pun telah mencium gelagat kalau aksinya telah diketahui. Dia lantas berusaha melarikan diri dari desanya dengan membawa uang hasil penjualan kerbau tersebut. TNI dengan sigap berusaha membantu warga untuk mencarinya, tapi Syuib sudah tak ditemukan lagi di desanya. TNI dan beberapa warga lalu berusaha mencari Syuib di daerah perbukitan dan di desa-desa tetangga. Sementara itu, GAM juga mencari Syuib di daerah perbukitan yang mereka kuasai, menghindari kemungkinan kaburnya Syuib melalui jalan hutan. Ketika itu, GAM tidak mengetahui kalau TNI pun mencari Syuib. Ketika TNI berusaha mencarinya ke daerah hutan, GAM menangkap sinyal Handy Talkie (HT) saat berada pada frekuensi yang sama. Kalau sudah begini, biasanya mereka saling ledek, psywar atau umpatan-umpatan lain. “Ngapain, Tengku di atas,” sebut seorang anggota TNI kepada GAM melalui HT. “Lagi buru pencuri,” jawab GAM serius. Tentu saja TNI kaget, sebab mereka pun sedang melakukan hal yang sama. TNI lalu menanyakan kepada warga, apakah GAM tahu kasus pencurian itu. Sebab, dalam dugaan TNI, GAM-lah yang berusaha membantu Syuib memuluskan aksi pencurian tersebut. Warga pun membenarkan, bahwa pihak GAM juga tengah berupaya melakukan pencarian Syuib. Entah siapa yang memulai, terjadilah kesepakatan sesaat untuk tidak saling menyerang bila nanti bertemu dalam upaya pencarian. Apalagi, ada warga sipil yang bersama mereka dan khawatir menjadi korban. Tak lama setelah itulah, di sebuah kebun pinang di kaki perbukitan, salah seorang warga menemukan sebuah tas berisi beberapa potong baju. Warga memperkirakan tas itu adalah milik Syuib. Benar saja, Syuib yang ternyata telah kepergok GAM di atas sana, berusaha bersembunyi di kebun tersebut. Malang, ia pun kedapatan oleh warga dan TNI. Tanpa penjang lebar, Syuib jujur mengakui telah mencuri kerbau Pak Ali kerena butuh uang. Oleh TNI, Syuib hanya dinasehati dan diserahkan kepada warga. “Terserah Bapak-bapak bagaimana mengadili dia,” sebut salah seorang TNI disertai ancaman tembak kalau mencuri lagi. Penangkapan itu pun kemudian diketahui oleh GAM. Dan mereka pun berlalu setelah tahu pencurinya telah tertangkap. Mereka kembali bergerilya, menjauhkan diri dari kemungkinan kontak tembak dengan TNI. *** Oleh warga, Syuib lalu dimaafkan, karena dia mengaku khilaf. Dan Syuib pun mau bertanggung jawab untuk mengembalikan uang hasil penjualan kerbau Pak Ali. Pak Ali kemudian menemui agen kerbau dan mengembalikan uangnya serta membawa pulang kerbau jantan kesayangnnya. Syuib pun jera, dan mengaku tidak mengulagi perbuatannya lagi. Tentu saja Syuib jera. Pasalnya, dia diburu dua kekuatan bersenjata sekaligus. Demi menangkap Syuib, mereka sepakat melakukan gencatan senjata. [A] Sumber : Achehkita Monday, July 19, 2004
Raider dan Penyelesaian Aceh
Hal kedua; demi melancarkan operasi militer lanjutan ini, Panglima TNI Jenderal Endiartono Sutarto terlebih dahulu menarik Mayjen Bambang Darmono dan Brigjen Safzen Nurdin ke Jakarta. Kedudukan Panglima Komando Operasi (Pangkoops) selanjutnya diserahkan ke tangan Brigjen George Toisutta yang berasal dari Raider dan Wapangkoops dipegang Brigjen Suroyo Gino mantan Kepala Staf Divisi II Kostrad. Dalam berbagai kesempatan, Panglima TNI acapkali mengemukakan bahwa tahap pemisahan GAM dari rakyat telah berjalan sukses pada DM I dan kebutuhan mengerahkan pasukan Raider adalah untuk melumatkan sisa GAM dan pimpinannya yang kini berada di pegunungan. Pasukan Raider juga dipersiapkan untuk menggantikan 30 Batalyon yang sedang bertarung di Aceh. Jenderal Ryamizard pun telah mengunjungi Aceh (8/4) bersama Pangkostrad Letjen Bibit Waluyo dan delapan pangdam yang mengiringinya untuk mengecek keadaan pasukan pemukul dan penyergap itu. Ryamizard terlihat berang dan tertekan dengan “prestasi” pasukan istimewanya. Padahal, pasukan ini diklaim memiliki kemampuan tiga kali lipat dibanding infanteri. Apalagi, Raider juga partner Kopassus (Komando Pasukan Khusus). Tetapi sampai masa berlaku DM II, Mei lalu, Raider gagal menangkap atau menembak pimpinan GAM. Harian Waspada versi internet (9/4) menuliskan laporannya dengan topik “Prestasi Raider Tidak Maksimal”. “Seluruh Panglima Kodam dari berbagai kesatuan jajaran Koops TNI di NAD khususnya Raider diperintahkan evaluasi pasukannya di lapangan,” tulis Waspada. Raider dililit persoalan teknis, disiplin dan masalah-masalah tempur. Kendati, sejauh ini Raider telah mengoperasi lembah, pegunungan, rawa, lautan dan desa serta kota di Aceh untuk mencari dan menghabisi gerilyawan GAM dan pimpinannya. Namun janji yang diucapkan Jenderal Ryamizard untuk melumpuhkan GAM dan petingginya pada DM I ketika Raider masih dalam tahap persiapan dulu, sampai sekarang belum terbukti. Siapakah Raider ? Dari kelahirannya yang merupakan hasil pembekuan satuan pemukul 8 Kodam dan 2 Divisi Kostrad, pasukan Raider adalah pasukan khusus TNI nomor buntut yang berhadapan dengan GAM. Pasukan khusus lain yang pernah dan masih berhadapan dengan GAM di medan tempur antara lain Paskhas (Pasukan Khas-TNI AU), Marinir, Linud (Lintas Udara) Kostrad, Kopassus dan Brimob (Brigade Mobil). TNI sendiri sebenarnya sudah punya Raider sejak satu dekade lalu. Lihat saja Yonif 400/Raider semasa masih bernama Yonif 401 Banteng Raider Kodam Diponegoro. Yonif ini pernah beroperasi di bawah kendali George Toisutta pada masa Daerah Operasi Militer (DOM) diberlakukan di Timor Timur tahun 1996. Akhirnya melalui proses Referendum, Timor Lorosae merdeka, Agustus 1999. Satuan pemukul Raider lain yang “dikenang” rakyat Aceh karena aksi brutalnya adalah Yonif Linud 100/Bukit Barisan. Satuan ini membuat masyarakat Aceh Utara dan Timur mengalami trauma pada masa DOM (1989-1998). Protes masyarakat terhadap operasinya yang membabi buta (tidak mencerminkan tentara profesional) menyebabkan Yonif Linud 100 ditarik dari wilayah itu. Setelah berganti nama menjadi Yonif 100/Raider bersama Yonif 323/Raider divisi 1 Kostrad dan Yonif 400/Raider, satuan penyergap ini beroperasi di wilayah Korem 012/Teuku Umar. Sedangkan 7 Yonif Raider lain beroperasi di wilayah Korem 011/Lilawangsa. Secara umum 10 Yonif/Raider yang diresmikan 22 Desember 2003 terbentuk dari 1 Yonif Banteng Raider, 2 Yonif Linud (Kostrad), 2 Yonif Kostrad, dan selebihnya masuk kategori pasukan pemukul. Dapat diperkirakan bahwa dari sisi ide, pembentukan pasukan Raider tidak terlepas dari pengaruh Kostrad dengan tokohnya, tentu saja, Ryamizard Ryacudu (mantan Pangkostrad di masa Gus Dur) yang kini menjabat KSAD. Alasannya tentu modernisasi pasukan tempur TNI guna menghadapi ancaman perang di masa depan. Hal yang agak mengejutkan adalah jumlahnya yang mencapai 10 Batalyon. Dua kali lipat kekuatan Kodam Iskandar Muda. Mengulang pernyataan Jenderal Ryamizard, Raider adalah pasukan khusus terbesar di dunia. Mereka memakai senapan serbu SS1-V1 varian senjata serbu (SS1) yang sesuai dengan tugas dan lapangan. Senjata ini disebut-sebut melebihi kemampuan AK-47 yang digunakan GAM. Banyak yang menyebut-nyebut, Raider adalah “milik” Jenderal Ryamizard. Setidaknya, spekulasi ini semakin menguat, ketika Panglima TNI tidak menghadiri acara pelantikan Raider di Jakarta, tahun silam. Tabel 1. Profil Raider di Aceh
Dari berbagai sumber Medan dan Laga Tiga kabupaten di wilayah binaan Korem 011/Lilawangsa yakni Pidie, Aceh Utara dan Aceh Timur masing-masing ditempatkan 2 Batalyon Raider. Dua batalyon dari Yonif 412/Raider Bivisi 2 Kostrad dan Yonif 600/Raider mengepung tempat kelahiran Wali Neugara Acheh Tgk. Dr. Hasan Muhammad di Tiro, di kabupaten Pidie. Monday, July 12, 2004
Mengapa jarang ada yang mengeluh jadi korban GAM ?
Seorang pembaca Acehkita bernama Bung Kourniawan menulis surat pada redaksi Acehkita yang memuji liputan media ini, tapi sekaligus mempertanyakan kemungkinan bias akibat hanya meliput dari satu sisi saja. Dengan kata lain, media ini hanya meliput para korban dari sisi anggota TNI sebagai pelaku. Berikut petikan dua surat Bung Kourniawan:
...Saya acungkan jempol pada acehkita.com yang telah menurunkan hasil2 liputan ttg Aceh yang tidak dapat dijumpai pada mediamassa lainnya. Namun, saya mengusulkan. Jika saja hasil2 liputan Acehkita ini mengcover 2 sisi (two back sides cover) akan lebih bagus, dan tentunya akan terhindar dari bias. Jadi bukan cuman kekejaman yang dilakukan oleh pasukan pemerintah saja yang diberitakan, tapi juga kekejaman terhadap rakyat yg dilakukan oleh Gerakan Aceh Merdeka (GAM). Dengan demikian kami, para pembaca, dapat memberikan penilaian yang sebenarnya. submitted by Kourniawan from 62.139.170.137] ...Terima kasih kepada para pembaca yang telah menanggapi surat saya dengan segala pro dan kontranya. Juga kepada Bung Stanley yang telah berkenan memberikan tanggapan langsung. Sebelumnya perlu saya katakan kepada para pembaca, baik yang pro GAM maupun pro TNI, bahwasanya saya terlepas dan steril dari kedua belah pihak yang tengah bertikai. Karena saya hanya peduli dengan penderitaan rakyat sipil Aceh akibat konflik dua kekuatan militer di atas. Ketika saya membaca bentuk jurnalistik yang hendak diketengahkan komisi ombudsman sebagaimana tercantum di bawah, bahwasanya jurnalistik yang hendak diketengahkan adalah jurnalistik damai, peduli dengan penderitaan rakyat sipil, anak-anak, wanita, para lanjut usia di tengah konflik militer. Namun ketika saya membaca lebih banyak lagi. Saya mendapati bahwasanya berita-berita Acehkita.com lebih banyak didominasi penderitaan rakyat sipil akibat tindakan repressif pasukan pemerintah. Lalu dimanakah penderitaan rakyat sipil Aceh akibat tindakan represif GAM? Bukankah dalam konflik militer rakyat sipil adalah pihak yang dirugikan oleh kedua belah pihak? Saya rasa mustahil GAM tidak pernah melakukan kekerasan terhadap rakyat sipil. Bukankah ini konflik bersenjata yang melibatkan dua pihak? Dan saya yakin, dari sekian juta rakyat sipil Aceh hanya beberapa persen saja yang mendukung GAM, alias tidak semua. Saya bukan hendak meminta Redaksi untuk memberitakan berita-berita tentang pembangunan di Aceh, sama sekali bukan. Sebagaimana mukadimah tanggapan Bung Stanley. Saya juga bukan hendak mengatakan bahwasanya rekan-rekan wartawan lokal Aceh takut untuk memberitakan tentang kebrutalan GAM. Namun saya mengusulkan, alangkah baiknya jika penderitaan rakyat sipil Aceh diangkat secara utuh, tanpa sepotong-sepotong. Karena hal ini adalah bukti bahwa Komisi Ombudsman cq. Acehkita.com mampu menggapai tujuannya, alias tidak bekerja ecara parsial. Bagaimapun juga, saya salut dengan kerja Komisi Ombudsman yang telah menghadirkan genre baru dalam dunia jurnalistik kita. "Katakan kebenaran walaupun itu pahit". "Bisa jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia baik bagimu. Dan bisa jadi kamu menyukai sesuatu padahal ia buruk bagimu" .... submitted by kourniawan from 62.139.170.141
Secara pribadi, selaku ombudsman, saya juga mendapat surat pribadi yang dikirim oleh pembaca langsung ke email saya. Umumnya mereka menjadi lebih paham akan persoalan Aceh dan juga misi yang diusung media ini berkat tulisan di edisi lalu. Begini. Dalam dunia jurnalistik, seorang wartawan selalu mencoba menghadirkan kebenaran sebagai tujuan dari pekerjaannnya. Mulai dari memilih narasumber, wawancara hingga saat menuliskannya sebagai berita. Namun, wartawan jarang memperoleh kesempatan, sumber, atau pengetahuan seorang ahli untuk mendapatkan kebenaran sendiri. Karena itulah seorang wartawan selalu mengupayakan mengumpulkan informasi selengkap mungkin dari mereka yang memiliki semua itu. Ketika seorang wartawan mewawancarai korban di sebuah daerah konlik, ia kerap telah mengetahui bahwa orang yang diwawancarai adalah korban kekerasan yang dilakukan pihak A. Namun ada kalanya ia hanya mendatangi kamp pengungsi tanpa tahu sebelumnya siapa orang yang akan diwawancarai. Si wartawan hanya berasumsi bahwa di kamp pengungsian ada banyak orang menderita. Pasti di antara mereka ada yang menjadi korban kekerasan. Wartawan selama berwawancara akan menggunakan naluri untuk membedakan mana cerita imajinatif (bohong) dan mana cerita yang benar. Karena itulah wartawan selalu menolak suatu wawancara yang mendapatkan pengarahan, misalnya didampingi petugas atau dalam suasana resmi di mana si narasumber berada dalam tekanan, dan seterusnya. Nah, di sinilah letak kesulitannya. Tak semua wartawan punya akses untuk menemui pihak-pihak yang bertikai di sebuah daerah konflik, seperti halnya di Aceh. Kalupun dia punya belum tentu setiap pihak, termasuk aparat keamanan, mengijinkan si wartawan melakukan wawancara dengan pihak yang bisa dianggap merugikan kelompoknya. Ada pengalaman dari crew CNN saat meliput konflik di Ambon pada akhir 1997. Saat kerusuhan sedang hebat-hebatnya berkecamuk di kawasan tersebut, CNN mengirimkan dua crew-nya untuk meliput. Wartawan yang dikirim adalah seorang wartawan perempuan asal Filipina yang beragama Kristen. Ia ditemani seorang kamerawan pria asal Afrika yang beragama Islam. Dari namanya, orang awam bisa menebak bahwa yang perempuan adalah Kristen dan yang lelaki adalah muslim. Mulanya mereka mencoba masuk ke wilayah merah yang dikuasai kelompok Kristen. Masyarakat setempat menyambut kedatangan si wartawan, tapi menolak kehadiran sang kamerawan. Tentu saja hal ini tak memungkinkan wartawan untuk membuat berita sesuai standar televisi CNN. Saat mereka memutuskan masuk ke daerah putih, ganti si wartawan ditolak mentah-mentah, apalagi dalam anggapan masyarakat setempat mereka mewakili CNN yang jelas-jelas Barat dan Kristen. Persoalan yang sama dihadapi para wartawan (terutama orang lokal) di Aceh yang diharuskan memiliki KTP Merah Putih dan juga kartu identitas yang dikeluarkan Penguasa Darurat Militer Daerah (PDMD). Bisa dibayangkan dengan kartu identitas seperti itu, yang selalu ditanyakan di mana-mana (oleh setiap orang), telah membuat ruang gerak wartawan menjadi terbatas. Salah masuk ke daerah dan kemudian salah identifikasi (karena keberpihakan media temopat bekerja) akan membuat si wartawan disandera. Hal ini yang menyebabkan wartawan yang baru datang dari Jakarta, lebih memilih aman dengan meliput dari hotel atau pergi mencari berita ke media centre yang dibangun oleh PDMD. Tak ada yang salah dengan liputan seperti itu, asalkan ada upaya crosscheck ke lapangan. Tapi bagaimana bila si wartawan tak menguasai medan, tak memiliki jaringan dengan penduduk setempat, dan satu-satunya akses yang bisa diandalkan adalah keterangan yang bersumber dari pejabat resmi? Kita bisa memeriksa kembali pemberitaan media massa selama pemberlakukan masa darurat militer di Aceh yang sarat dengan bias. Nah, wartawan media ini sejak awal tampaknya memang mencoba keluar dari lingkaran yang menyesatkan itu. Mereka lebih mengutamakan kerja investigasi dan menemui sumber-sumber langsung di lapangan yang jauh dari kemungkinan rekayasa pernyataan. Setengah bercanda saya katakan, bahwa mereka mungkin yakin pada vox populi vox dei alias “suara rakyat kecil yang tak berdaya adalah suara Tuhan”. Mungkin setidaknya hal ini menjadi prioritas wartawan media ini. Kita bisa melihat bagaimana wartawan media ini adalah pihak yang untuk pertama kalinya mengangkat masalah penyilangan rumah penduduk dengan cat merah oleh aparat TNI. Pemberitaan yang kemudian ditindaklanjuti oleh BBC London ini berhasil membuat PDMD mengeluarkan perintah penghentian aksi yang bisa menjurus kepada kejahatan perang tersebut.
Sejumlah wartawan dari Jakarta maupun lokal yang berhasil masuk ke wilayah terpencil dan menemui penduduk pada umumnya memang berkeluh-kesah soal TNI. Kenapa demikian? Para wartawan yang saya tanya hanya mengangkat pundak mereka. “Mungkin Operasi Jaring Merah (DOM) yang digelar sejak 1989 hingga 1999 memang telah menimbulkan korban yang tidak sedikit dan rasa traumatis yang mendalam,” ungkap sebagian dari mereka. Mengapa jarang ada yang mengeluh jadi korban GAM? Saya tak berani menjawabnya, karena saya tak mau masuk ke wilayah politik. Apalagi beberapa waktu lalu ada kalangan petinggi TNI yang meminta agar dada setiap wartawan Indonesia adalah Merah Putih sebagai cerminan patriotisme dan cinta tanah air. Sebagai seorang wartawan, saya sendiri pernah mempertanyakan “jurnalisme patriotisme” yang dirilis sejumlah pejabat pada Mei 2003 lalu. Pada hemat saya, jurnalisme model tersebut berpotensi membenamkan nama baik wartawan Indonesia ke lumpur kenistaan sebagaimana yang pernah dilakukan sebagian wartawan Amerika saat meliput perang Vietnam. Saya perlu mengutip Bertrand Russell yang mengatakan, “partriotism is the willingness to kill and be killed for trivial reasons”. Patriotisme adalah kesediaan untuk membunuh dan dibunuh karena alas an-alasan yang sepele. [bersambung] Stanley adalah wartawan senior, pendiri sekaligus anggota Majelis Etik, Aliansi Jurnalis Independen (AJI) dan kini bekerja sebagai Direktur Institut Studi Arus Informasi (ISAI). Segala keluhan tentang isi pemberitaan situs ini, bisa disampaikan langsung kepada ombudsman melalui email stanley@isai.or.id Friday, June 18, 2004
delapan pintu DELAPAN PINTU
IKHLAS Ikhlas Thursday, June 17, 2004
Foto-foto 'gaya' pemikir ....
Tuesday, June 15, 2004
fenomena angsa .... FeNoMeNa AnGsA ....
Kalau anda tinggal di negara 4 musim, maka pada musim gugur, akan terlihat rombongan angsa terbang ke arah selatan untuk menghindari musim dingin. Angsa-angsa tersebut terbang dengan formasi berbentuk huruf "V". Kita akan melihat beberapa fakta ilmiah tentang mengapa rombongan angsa tersebut terbang dengan formasi "V".
FAKTA: Saat setiap burung mengepakkan sayapnya, hal itu memberikan "daya dukung" bagi burung yang terbang tepat dibelakangnya. Ini terjadi karena burung yang terbang di belakang tidak perlu bersusah-payah untuk menembus 'dinding udara' di depannya. Dengan terbang dalam formasi "V", seluruh kawanan dapat menempuh jarak terbang 71 % lebih jauh daripada kalau setiap burung terbang sendirian. PELAJARAN: Orang-orang yang bergerak dalam arah dan tujuan yang sama serta saling membagi dalam komunitas mereka dapat mencapai tujuan mereka dengan lebih cepat dan lebih mudah. Ini terjadi karena mereka menjalaninya dengan saling mendorong dan mendukung satu dengan yang lain. FAKTA: Kalau seekor angsa terbang keluar dari formasi rombongan, ia akan merasa berat dan sulit untuk terbang sendirian. Dengan cepat ia akan kembali ke dalam formasi untuk mengambil keuntungan dari daya dukung yang diberikan burung di depannya. PELAJARAN: Kalau kita memiliki cukup logika umum seperti seekor angsa, kita akan tinggal dalam formasi dengan mereka yang berjalan didepan. Kita akan mau menerima bantuan dan memberikan bantuan kepada yang lainnya. Lebih sulit untuk melakukan sesuatu seorang diri daripada melakukannya bersama-sama. FAKTA: Ketika angsa pemimpin yang terbang di depan menjadi lelah, ia terbang memutar ke belakang formasi, dan angsa lain akan terbang menggantikan posisinya. PELAJARAN: Adalah masuk akal untuk melakukan tugas-tugas yang sulit dan penuh tuntutan secara bergantian dan memimpin secara bersama. Seperti halnya angsa, manusia saling bergantung satu dengan lainnya dalam hal kemampuan, kapasitas, dan memiliki keunikan dalam karunia, talenta atau sumber daya lainnya. FAKTA: Angsa-angsa yang terbang dalam formasi ini mengeluarkan suara riuh-rendah dari belakang untuk memberikan semangat kepada angsa yang terbang di depan sehingga kecepatan terbang dapat dijaga. PELAJARAN: Kita harus memastikan bahwa suara kita akan memberikan kekuatan. Dalam kelompok yang saling menguatkan, hasil yang dicapai menjadi lebih besar. Kekuatan yang mendukung (berdiri dalam satu hati atau nilai-nilai utama dan saling menguatkan) adalah kualitas suara yang kita cari. Kita harus memastikan bahwa suara kita akan menguatkan dan bukan melemahkan. FAKTA: Ketika seekor angsa menjadi sakit, terluka, atau ditembak jatuh, dua angsa lain akan ikut keluar dari formasi bersama angsa tersebut dan mengikutinya terbang turun untuk membantu dan melindungi. Mereka tinggal dengan angsa yang jatuh itu sampai ia mati atau dapat terbang lagi. Setelah itu mereka akan terbang dengan kekuatan mereka sendiri atau dengan membentuk formasi lain untuk mengejar rombongan mereka. PELAJARAN: Kalau kita punya perasaan, setidaknya seperti seekor angsa, kita akan tinggal bersama sahabat dan sesama kita dalam saat-saat sulit mereka, sama seperti ketika segalanya baik! Teman, kita memang bukan angsa, tapi kita bisa belajar dari logika umum & perasaan mereka, semoga fakta & pelajaran ini bisa bermanfaat untuk kita semua. Monday, June 14, 2004
JANJI AMIEN R. PADA ACHEH ADALAH JANJI GOMBAL Sumber : http://www.dataphone.se/~ahmad/040614a.htm Stockholm, 14 juni 2004 Bismillaahirrahmaanirrahiim. JANJI AMIEN RAIS PADA RAKYAT ACHEH ADALAH JANJI POLITIK GOMBAL JELAS ITU JANJI AMIEN RAIS PADA RAKYAT ACHEH ADALAH JANJI POLITIK GOMBAL "Bapak Ahmad Sudirman yang terhormat, berikut ini saya kirimkan berita tentang "Janji Salah Seorang Calon Presiden NKRI Pada Rakyat Acheh". (Bahtiar, bahtiar@gmail.com , Sun, 13 Jun 2004 15:47:46 +0700) Terimakasih Saudara Bahtiar Rifai di Yogyakarta, Indonesia atas kiriman berita tentang "Janji Salah Seorang Calon Presiden NKRI Pada Rakyat Acheh" yang ditulis oleh saudara wartawan Detikcom Djo dari Detikcom atas laporan dari saudara wartawan Detikcom Anton Aliabbas. Setelah saya baca hasil laporan yang ditulis oleh saudara wartawan Detikcom Anton Aliabbas tentang tentang "Janji Salah Seorang Calon Presiden NKRI Pada Rakyat Acheh", ternyata kalau diteliti, dipelajari, didalami, hanyalah merupakan janji politik gombal. Atau istilah lainnya janji politik yang kosong atau palsu. Bagaimana tidak ? Apakah Amien Rais selaku Ketua Umum MPR mampu menyelesaikan konflik Acheh dengan cara jujur, adil, dan bijaksana ?. Jawabannya, Amien Rais tidak mampu menyelesaikan konflik Acheh dengan cara jujur, adil, dan bijaksana. Yang dilakukan oleh Amien Rais dalam menyelesaikan konflik Acheh adalah sama dengan pihak Megawati dan TNI/POLRI-nya. Karena itu, apa yang bisa dijadikan dasar pemecahan dan penyelesaian konflik Acheh oleh Amien Rais kalau bukan menggunakan TNI/PLRI-nya lagi. Artinya, Amien Rais akan tetap mempergunakan TNI/POLRI untuk menjalankan kebijaksanaan politik, pertahanan, dan keamanan di Negeri Acheh. Amien Rais memang sudah kelihatan tetap tidak akan mengakui dan tidak akan menerima penyelesaian konflik Acheh melalui jalan penentuan pendapat dengan cara jajak pendapat atau referendum bagi seluruh rakyat Acheh untuk memilih dua opsi, opsi YA bebas dari RI, dan opsi TIDAK bebas dari RI. Amien Rais tidak memiliki agenda penyelesaian Acheh yang berbeda dari cara penyelesaian para pendahulunya. Bukan hanya Amien Rais yang tidak mempunyai agenda yang jelas untuk menyelesaikan konflik Acheh, melainkan juga Calon-calon presiden lainnya. Seperti Capres Wiranto,Capres Megawati, Capres Hamzah Haz, dan Capres Susilo Bambang Yudhoyono. Karena memang Amien Rais tidak punya agenda yang jelas tentang bagaimana menyelesaikan konflik Acheh, maka jalan yang akan ditempuhnya adalah sama seperti yang telah dan sedang ditempuh oleh Presiden Megawati sekarang ini, yakni menggunakaan TNI/POLRI/RAIDER dengan kekerasan senjata-nya. Para Capres ini, melihat konflik Acheh dan pemecahannya dengan memakai kacamata kerangka NKRI, yang mengklaim Negeri Acheh telah menjadi bagian didalamnya. Jelas, Amien Rais juga melihat penyelesaian konflik Acheh dilihat dari sudut kerangka NKRI. NKRI sudah final. Artinya, Amine Rais tidak mengakui dan tetap tidak mau menerima bahwa Negeri Acheh ditelan, diduduki, dan dijajah Presiden RIS Soekarno yang diteruskan oleh RI yang menjelma sejak 15 Agustus 1950 sampai detik sekarang ini. Karena itu Amien Rais dengan alasan NKRI sudah final adalah menunjukkan kelemahan dia dalam memberikan argumentasi untuk tetap mempertahankan Negeri Acheh. Amien Rais memang tidak mampu memberikan argumentasi berdasarkan fakta dan bukti, dasar hukum, dan sejarah yang menunjukkan bahwa Negeri Acheh adalah merupakan bagian dari RI. Mengapa ? Karena kalau Amien Rais memahami, mempelajari, mendalami, mengenai sejarah pertumbuhan dan perkembangan RI yang sebenarnya dihubungkan dengan Negeri Acheh, maka Amien Rais akan menemui jalur sejarah yang menyatakan dengan jelas bahwa Soekarno sebagai Presiden RIS telah menjalankan kebijaksanaan politik, pertahananan, keamanan, penelanan, pendudukan, dan penjajahan Negeri Acheh. Jadi, apapun yang dijanjikan Amien Rais kepada rakyat Acheh dalam rangka kampanye Pemilu Capres 5 Juli 2004 adalah tidak lebih dan tidak kurang merupakan janji politik gombal. Bagi yang ada minat untuk menanggapi silahkan tujukan atau cc kan kepada ahmad@dataphone.se agar supaya sampai kepada saya dan bagi yang ada waktu untuk membaca tulisan-tulisan saya yang telah lalu yang menyinggung tentang Khilafah Islam dan Undang Undang Madinah silahkan lihat di kumpulan artikel di HP http://www.dataphone.se/~ahmad Hanya kepada Allah kita memohon pertolongan dan hanya kepada Allah kita memohon petunjuk, amin *.* Wassalam. Ahmad Sudirman http://www.dataphone.se/~ahmad Date: Sun, 13 Jun 2004 15:47:46 +0700 Yogyakarta, 13 Juni 2004 Bismillaahirrahmaanirrahiim. Bapak Ahmad Sudirman yang terhormat, berikut ini saya kirimkan berita tentang "Janji Salah Seorang Calon Presiden NKRI Pada Rakyat Acheh". Demikian semoga bermanfaat. Bahtiar Rifai bahtiar@gmail.com Lampiran: Jika Jadi Presiden, Amien Janji Nginap di Aceh 10 Hari detikcom - Aceh, Pasangan Amien Rais dan Siswono Yudo Husodo berkampanye di Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam (NAD). Jika terpilih sebagai presiden, Amien berjanji menginap di Aceh 10 hari. "Saya tidak akan berkunjung 1 atau 2 jam saja. Tapi saya akan khususkan selama 10 hari untuk berkelilinag ke Pidie, Meulaboh dan lainnya. Ini saya lakukan untuk mengetahui aspirasi masyarakat Aceh. Pak Sis akan saya tugaskan ke Papua," kata Amien. Hal itu dingkapkan Capres Partai Amanat Nasional (PAN) ini saat menyampaikan pidato kebudayaannya di Universitas Muhammadiyah Leung Bata, Aceh, Sabtu (12/6/2004). Amien selanjutnya memberikan bantuan Rp 100 juta. Amien berharap dana ini bisa membantu pembangunan dan meningkatkan mutu pendidikan Universitas Muhamaddiyah Leung Bata. Di Aceh, pasangan Amien dan Siswono mendapat pengawalan yang cukup ketat. Sejak mendarat di Bandara Sultan Iskandar Muda, aparat keamanan nampak sibuk mengawal keduanya. Dua buah kendaraan taktis (Rantis) digunakan dalam pengawalan. Rencananya Amien juga akan berkunjung ke Pasar Banda Aceh. Di tempat ini, Amien akan menyempatkan diri makan siang bersama para tukang becak. Selanjutnya Amien akan melakukan kampanye terbuka di Stadion Harapan Bangsa. Amien adalah Capres pertama yang berkunjung ke Aceh.(djo)
|
Profile Tag Board Calendar
Links Ensiklonesia : Links
Say Salam Credits |
||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||